SmugMug
Home | Login | Help |
|
Style:
&
|View Cart
share photo
MATANESIA  > Journalism > Penyalin Huruf Braillle
Pahlawan Tunanetra Menunggu Derita

Jauh hari, penyalin braille sangat dibutuhkan. Kini, perlahan mereka ‘disingkirkan’.

Tidak hanya manusia normal yang membutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjelajah dunia, mereka yang menderita tunanetra pun demikian. Seiring perkembangan jaman, mereka yang terlibat dalam ‘menciptakan’ ilmu pengetahuan khusus tunanetra, keberadaannya kian terancam dari gilasan moderenisasi. Braille, bagi seorang manusia normal bisa jadi ditafsirkan sebagai huruf-huruf khusus tunanetra dalam sebuah buku bacaan, buku pelajaran, buku pengetahuan, atau media baca lainnya. Pun begitu, bagi penderita tunanetra, kebutuhan buku berhuruf braille jauh lebih berarti, mengingat jumlahnya tidak sebanyak bacaan orang normal.
Untuk membuatnya pun sangat berbeda. Bila buku biasa akrab dengan huruf alphabet yang biasa disunting ahli bahasa, berbeda dengan buku berhuruf braille yang sangat membutuhkan penyalin braille. Khusus yang terakhir, keberadaannya sangat langka dan kebanyakan dari mereka juga seorang penderita.
Namun sayang, meski jumlahnya hanya hitungan jari, perlahan kehidupan mereka mulai ‘tidak dibutuhkan’ lagi karena semakin berkembangnya tekhnologi. Bila awalnya huruf-huruf latin mampu disalin menjadi braille dengan konsep manual (mesin ketik), kini mulai bergeser dengan metoda penggunaan software dan printer khusus huruf braille. Buku dan bacaan braille buah inovasi inipun lebih mudah didapatkan dan sudah banyak beredar, berbeda dengan hasil salinan. Jika Anda berkunjung ke Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Tegalsari, Surabaya, fenomena diatas mungkin bersinggungan dengan kondisi salah satu sekolah khusus tunanetra ini. Komputerisasi ala tunanetra tidak cukup menggiurkan bagi pengelola yayasan meski printer braille sempat dimanfaatkan yang pada akhirnya rusak dan ogah memperbaik karena biaya mahal.
Kendati jauh hari masih dan kini sedang menggunakan konsep manual, kantor braille yang menempati salah satu ruangan di gedung TK dan SD Luar Biasa –A, Tegalsari, Surabaya, berhasil menyalin ribuan buku pelajaran dan bacaan dengan huruf braille yang langsung bisa dimanfaatkan sebagai oase pengetahuan siswa – siswi di sekolah itu.
Didirikan sejak tahun 1957, Kantor Braille-sebutan tempat penyalin braille bekerja- YPAB Tegalsari mempunyai 5 orang karyawan tetap, dimana 4 orang diantaranya juga penderita tunanetra. Penyalin braille bekerja setiap Senin hingga Sabtu dengan jam kerja pukul 08.00 hingga 12.30, khusus hari Jumat kantor tutup jam 11.00.Mungkin, satu aral yang mengganjal batin penyalin braille ini, besarnya jasa yang ditelorkan seolah tidak sebanding dengan apa yang didapat. Alih-alih perhatian pemerintah untuk mengangkat jadi PNS meski ‘masa abdi’ menyebutkan angka puluhan tahun, honor yang diperoleh jauh lebih rendah dari upah minimum regional (UMR) karena disesuaikan dengan kemampuan yayasan. Bila minoritas ini disebut pahlawan, mungkin sebutan pahlawan tanpa tanda jasa layak disematkan. Belum selesai bicara status, kini moderenisasi sudah menggonggong siap menerkam!

Naskah Foto : Boby Noviarto Pribadi
Gallery pages:  1  
Buy:
this photo buy this photo
multiple photos buy multiple photos | view cart view cart
< 1 of 8 >
MATANESIA > Dengan bantuan tongkat, Soeharto (57 tahun), salah satu penyalin huruf braille, berjalan memasuki ruangan tempat beliau bekerja di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Jumat (21/09/2007). Soeharto menderita tuna netra dan telah mengabdi di kantor braille ini sejak tahun 1975. Untuk menambah penghasilan, beliau menerima jasa pijat urat di rumahnya. 

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Suasana kantor braille milik Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Surabaya, Sabtu (22/09/2007). Karyawannya bekerja setiap hari senin hingga sabtu, mulai jam 08.00 hingga jam 12.30, khusus hari jumat kantor tutup jam 11.00. Bagi sebagian karyawan, khususnya yang menderita tuna netra, kantor braille mempunyai arti lebih. Di tempat tersebut mereka bisa berkumpul dengan rekan-rekan yang senasib dan bisa melakukan sesuatu untuk mereka.

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Menggunakan mesin ketik manual khusus huruf braille, Waruyono (61 tahun), menggandakan buku pelajaran yang sebelumnya telah disalin dalam huruf braille di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Jumat (21/09/2007).

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Satu mesin ketik manual khusus braille yang dipakai di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya. Mesin ketik braille tidak mempunyai banyak tombol. Alat ini hanya memiliki 9 (sembilan) tombol, yaitu tombol titik 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Tombol 1-6 ini merupakan representasi dari huruf Braille yang memang terdiri dari 6 (enam) titik. Tombol-tombol sisanya adalah tombol spasi, tombol pengkait kertas, tombol pengunci, dan tombol maju/mundurnya kertas.

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Koordinator kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Ibu Joko Sayono (65 tahun) berpose bersama mesin ketik braille di ruang kerjanya, Jumat (21/09/2007). Sebagai satu-satunya karyawan di kantor braille YPAB Tegalsari dengan penglihatan normal, beliau mempunyai tugas ganda. Selain menyalin buku, Ibu Joko membantu rekannya membacakan buku yang disalin.

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Dua orang siswa SD Luar Biasa – A YPAB Tegalsari sedang belajar dengan memanfaatkan buku pelajaran yang telah disalin dengan huruf braile, Sabtu(22/09/2007).

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Buku-buku pelajaran hasil kerja keras para ‘penyalin braile’ yang berada di salah satu lemari penyimpanan di SD Luar Biasa – A (khusus tuna netra) YPAB Tegalsari. 

Fotografer: Boby NP
MATANESIA > Suasana proses belajar mengajar di salah satu kelas SD Luar Biasa – A YPAB Tegalsari, Surabaya, Sabtu (22/09/2007). Buku-buku pelajaran dengan huruf braile mempermudah siswa-siswi untuk belajar. Mengingat masih ada staff pengajar di SDLB – A YPAB yang menderita tuna netra, buku-buku tersebut juga mempermudah mereka untuk mengajar. 

fotografer: Boby NP
Dengan bantuan tongkat, Soeharto (57 tahun), salah satu penyalin huruf braille, berjalan memasuki ruangan tempat beliau bekerja di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Jumat (21/09/2007). Soeharto menderita tuna netra dan telah mengabdi di kantor braille ini sejak tahun 1975. Untuk menambah penghasilan, beliau menerima jasa pijat urat di rumahnya.

Fotografer: Boby NP
 > Dengan bantuan tongkat, Soeharto (57 tahun), salah satu penyalin huruf braille, berjalan memasuki ruangan tempat beliau bekerja di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Jumat (21/09/2007). Soeharto menderita tuna netra dan telah mengabdi di kantor braille ini sejak tahun 1975. Untuk menambah penghasilan, beliau menerima jasa pijat urat di rumahnya. 

Fotografer: Boby NP
Dengan bantuan tongkat, Soeharto (57 tahun), salah satu penyalin huruf braille, berjalan memasuki ruangan tempat beliau bekerja di kantor braille YPAB Tegalsari, Surabaya, Jumat (21/09/2007). Soeharto menderita tuna netra dan telah mengabdi di kantor braille ini sejak tahun 1975. Untuk menambah penghasilan, beliau menerima jasa pijat urat di rumahnya.

Fotografer: Boby NP
Camera: Nikon Corporation (Nikon D100 ) |
More details: exif |
Original size: 700px x 465px |
Current: 400px x 266px |
Other sizes: Small · M · L · O · save photo |
Share photo: links, forums, blogs |
Gallery pages:  1  
Buy:
this photo buy this photo
multiple photos buy multiple photos | view cart view cart
< 1 of 8 >

Comments

| hide gallery comments |

New comment:

Comment on: | Rating: stars
Name:
Link:
To foil spammers, enter this code: copy this text in this box: Code unreadable?
News | Browse | Keywords | Communities | Forum | Wiki | Gear | Prints & Gifts | Shopping Cart | Login
Terms | Privacy | About Us | Contact SmugMug | Blogs | API | Affiliates | © 2008 SmugMug, Inc.
Show FeedsAvailable Feeds | What are feeds?
gallery photos:
Atom FeedAtom | RSS FeedRSS