Journalism Galleries

Pesawatku : "Pesawat-pesawat ini milik rakyat, dan dipercayakan kepada TNI-AU.Silakan melihat-lihat bagaimana kami
menjaga dan menggunakan kepercayaan rakyat".

Sejak pagi, ratusan warga desa Ponggok, Kabupaten Blitar berduyun-duyun menuju lapangan desa.
Hari yang istimewa bagi warga desa karena akan ada atraksi terjun payung dan lintas pesawat.
Mereka, warga desa memiliki kesempatan melihat dari dekat pesawat yang dibayar dari pajak 
rakyat. 
Dari arah selatan desa, lima pesawat Hercules dari pangkapaln TNI AU Abdurahman Saleh terbang 
rendah di atas desa mereka. Lambaian tangan dan gemuruh teriakan gembira menyambut sang penjaga langit 
nusantara itu.
Peristiwa ini menjadi penting bagi TNI AU sebagai institusi yang lahir dari rakyat dan bekerja untuk rakyat.
Sebuah kado berharga untuk ulang tahun TNI AU yang ke 62 pada 9 April 2008.

naskah /foto : mamuk ismuntoro

Pesawatku

"Pesawat-pesawat ini milik rakyat, dan dipercayakan kepada TNI-AU.Sila ...

Updated: Mar 25, 2008 6:01pm PST

Penyalin Huruf Braillle : Pahlawan Tunanetra Menunggu Derita

Jauh hari, penyalin braille sangat  dibutuhkan. Kini, perlahan mereka ‘disingkirkan’.

Tidak hanya manusia normal yang membutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjelajah dunia, mereka yang menderita tunanetra pun demikian. Seiring perkembangan jaman, mereka yang terlibat dalam ‘menciptakan’ ilmu pengetahuan khusus tunanetra, keberadaannya kian terancam dari gilasan moderenisasi. Braille, bagi seorang manusia normal bisa jadi ditafsirkan sebagai huruf-huruf khusus tunanetra dalam sebuah buku bacaan, buku pelajaran, buku pengetahuan, atau media baca lainnya. Pun begitu, bagi penderita tunanetra, kebutuhan buku berhuruf braille jauh lebih berarti, mengingat jumlahnya tidak sebanyak bacaan orang normal.
Untuk membuatnya pun sangat berbeda. Bila buku biasa akrab dengan huruf alphabet yang biasa disunting ahli bahasa, berbeda dengan buku berhuruf braille yang sangat membutuhkan penyalin braille. Khusus yang terakhir, keberadaannya sangat langka dan kebanyakan dari mereka juga seorang penderita.
Namun sayang, meski jumlahnya hanya hitungan jari, perlahan kehidupan mereka mulai ‘tidak dibutuhkan’ lagi karena semakin berkembangnya tekhnologi. Bila awalnya huruf-huruf latin mampu disalin menjadi braille dengan konsep manual (mesin ketik), kini mulai bergeser dengan metoda penggunaan software dan printer khusus huruf braille. Buku dan bacaan braille buah inovasi inipun lebih mudah didapatkan dan sudah banyak beredar, berbeda dengan hasil salinan. Jika Anda berkunjung ke Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Tegalsari, Surabaya, fenomena diatas mungkin bersinggungan dengan kondisi salah satu sekolah khusus tunanetra ini. Komputerisasi ala tunanetra tidak cukup menggiurkan bagi pengelola yayasan meski printer braille sempat dimanfaatkan yang pada akhirnya rusak dan ogah memperbaik karena biaya mahal.
Kendati jauh hari masih dan kini sedang menggunakan konsep manual, kantor braille yang menempati salah satu ruangan di gedung TK dan SD Luar Biasa –A, Tegalsari, Surabaya, berhasil menyalin ribuan buku pelajaran dan bacaan dengan huruf braille yang langsung bisa dimanfaatkan sebagai oase pengetahuan siswa – siswi di sekolah itu. 
	Didirikan sejak tahun 1957, Kantor Braille-sebutan tempat penyalin braille bekerja- YPAB Tegalsari mempunyai 5 orang karyawan tetap, dimana 4 orang diantaranya juga penderita tunanetra. Penyalin braille bekerja setiap Senin hingga Sabtu dengan jam kerja pukul 08.00 hingga 12.30, khusus hari Jumat kantor tutup jam 11.00.Mungkin, satu aral yang mengganjal batin penyalin braille ini, besarnya jasa yang ditelorkan seolah tidak sebanding dengan apa yang didapat. Alih-alih perhatian pemerintah untuk mengangkat jadi PNS meski ‘masa abdi’ menyebutkan angka puluhan tahun, honor yang diperoleh jauh lebih rendah dari upah minimum regional (UMR) karena disesuaikan dengan kemampuan yayasan. Bila minoritas ini disebut pahlawan, mungkin sebutan pahlawan tanpa tanda jasa layak disematkan. Belum selesai bicara status, kini moderenisasi sudah menggonggong siap menerkam! 

Naskah + Foto : Boby Noviarto Pribadi

Penyalin Huruf Braillle

Pahlawan Tunanetra Menunggu Derita Jauh hari, penyalin braille sang ...

Updated: Mar 07, 2008 11:56pm PST

Dialog Lampion : Minggu sore (24/02) langit Surabaya berawan, termasuk kawasan Kembang Jepun. Ratusan orang sudah berada di pintu gerbang barat kya-kya untuk persiapan parade lampion massal. Sebuah acara disiapkan untuk merayakan Cap Go Meh.
Lampion di tangan tiap peserta parade seperti titk-titik merah di tengah jalan Kembang Jepun. Menjelang petang, titik merah lampion bertambah banyak, lalu-lalang, kemudian berbaris sebelum berjalan bersama di tengah rintik hujan.
Hari raya Cap Go Meh juga disebut Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa. Malam Cap Go Meh adalah malam pertama bulan purnama setiap tahun baru. Pada malam itu, rakyat Tiongkok mempunyai kebiasaan memasang lampion berwarna-warni, maka festival ini juga disebut sebagai “hari raya lampion”.
Minggu sore itu, lampion menjadi dialog bagi masyarakat Tionghoa dengan warga Surabaya lainnya. Dialog  hangat di tengah kota yang sarat dengan persimpangan kultur dan keyakinan.
Teks/foto: mamuk ismuntoro

Dialog Lampion

Minggu sore (24/02) langit Surabaya berawan, termasuk kawasan Kembang ...

Updated: Feb 26, 2008 7:41pm PST

Indonesia Massive Transportation :

Indonesia Massive Transportation

Updated: Oct 31, 2007 9:16pm PST

Mud Flow : Peristiwa luapan lumpur lapindo, Porong, Sidoarjo,Jawa Timur

Mud Flow

Peristiwa luapan lumpur lapindo, Porong, Sidoarjo,Jawa Timur

Updated: Oct 31, 2007 9:09pm PST

Para Pencari Tuhan : Kawasan masjid Ampel mulai menjadi pusat kegiatan Islam di Surabaya sejak pemerintahan Majapahit.
Masjid yang didirikan oleh Raden Rachmad (Sunan Ampel ) pada 1421 M ini menjadi salah satu tempat penting bagi umat muslim di Surabaya dan sekitarnya. Tak kurang dari 25 ribu umat yang datang setiap harinya di bulan Ramadhan.
Tuntunan ibadah dan kebiasaan turun-temurun ini membawa ribuan umat berbondong-bondong mengisi akhir Ramadhan mereka dengan “berdiam diri” di masjid Ampel, mengharap kebajikan dari ritual ibadah yang mereka kerjakan.
Mereka,”para pencari Tuhan” berharap bertemu lagi Ramadhan tahun depan. “Karena saya datang ke masjid Ampel hanya untuk mencari kebaikan”, tutur Supiah pengunjung masjid Ampel asal Sidoarjo, Jawa Timur.

~ MI ~

Para Pencari Tuhan

Kawasan masjid Ampel mulai menjadi pusat kegiatan Islam di Surabaya se ...

Updated: Oct 20, 2007 6:59am PST

Balqiz : Balqiz Baika Utami (2) is a blind child due to premature birth. With very limited information about early care for blind baby, Primaningrum, the mother, tries with her own method to accompany the growth of her special needs’ baby.

She doesn’t cover herself by “hiding” her baby from the neighborhood. Her openness is an important point in this case. Parents shouldn’t cover themselves from the reality that their sweetheart is in special needs. 

For Primaningrum herself, this openness also teaches her mentality. “If I’m not strong enough, how can I teach Balqiz to be mentally strong later on?” she said. 



Balqiz Baika Utami (2), adalah balita penyandang tuna netra akibat kelahiran prematur. Dengan informasi yang sangat terbatas tentang penanganan dini balita netra, Primaningrum, sang ibu berusaha dengan metoda sendiri untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya yang memiliki kebutuhan khusus.

Dia  juga tidak menutup diri dengan “menyembunyikan” anaknya dari lingkungan. Keterbukaan sang ibu ini justru menjadi titik penting mengapa para orang tua  seharusnya tidak perlu menutup diri jika memiliki buah hati yang memiliki kebutuhan khusus.

Bagi Primaningrum, keterbukaan ini juga menjadi ajang melatih mental dirinya. “Jika mental saya tidak kuat, bagaimana saya bisa mendidik Balqiz memiliki mental yang tangguh kelak?”, ujarnya.

Balqiz

Balqiz Baika Utami (2) is a blind child due to premature birth. With v ...

Updated: Sep 03, 2007 7:42pm PST